Tentang Lumpia Tokem
by , 24 March 2015
0
somethingville-com_lumpia-5a

Ini kisah soal penjual lumpia di Tokem, sebuah toko di daerah Slipi-Kemanggisan, Jakarta Barat. Bila anda tinggal di daerah Kemanggisan, kemungkinan besar anda mengenal Tokem. Apalagi bila masa kecil anda di sana, Tokem adalah satu satu toko klontong modern yang enak untuk belanja. Tentu saja, sekarang mah sudah jauh dibandingkan dengan supermarket-supermarket sejenis yang sekarang sudah banyak bertebaran.

Nah, di depan Tokem itu ada penjual lumpia yang lumayan enak. Jadi, ijinkan saya cerita soal Lumpia Tokem.Sekaligus sharing soal ‘Menjadi Berbeda’. Sama seperti halnya pedagang-pedagang UKM lainnya, Lumpia Tokem memanfaatkan crowd Tokem untuk menjual lumpianya. Bukankah ini jalan pintas yang menyenangkan? Pengunjung Tokem akan dengan serta merta mampir untuk membeli lumpia. Jadi, pedagang pun tidak usah mempromosikan lumpianya. Kecuali membayar uang sewa ke Tokem tentu saja.

Mengapa saya kisahkan ini, karena ternyata Lumpia Tokem justru menjadi makin laris ketika pindah dari Tokem. Sebetulnya bukan pindah, tapi untuk sementara harus mencari tempat lain karena Tokem sedang akan direnovasi. Maka pindahlah pedagang Lumpia ke tempat lain, pinggir jalan, sendirian. Tidak ada crowd di tempat baru tersebut.

Yup, Lumpia menjadi makin laris, karena ternyata banyak pembeli-pembeli baru. Pembeli lama dengan barang tentu datang kembali.Yang menarik, ternyata pembeli-pembeli baru itu baru tahu kalau ada penjual Lumpia di sekitar Tokem. Mereka tidak tahu kalau ada  penjual Lumpia di depan Tokem. Penjual lumpia justru tertutup dengan keberadaan Tokem itu sendiri. Diferensiasinya justru tenggelam oleh crowd yang dimiliki oleh Tokem.

Rasionalitas untuk mendapatkan kerumunan justru mengubur keunggulan lumpia. Sekalipun masih sebatas awareness, sebetulnya banyak dalam keseharian dimana secara tidak sengaja kita mengubur hidup-hidup diferensiasi brand kita atas nama pasar dan crowd.

Warna Logo kita sering kali kita sesuaikan dengan  warna market leader karena ingin laku seperti mereka.  Dan merasa bahwa market leader sudah melakukan riset panjang untuk warna tersebut. Kita menggunakan rasa, harga dan keunggulan produk dengan membandingkan dengan penguasa pasar ataupun kompetitor. Kita asumsikan bahwa mereka sudah melakukan riset konsumen.

Padahal, kalau kita mau sedikit melihat brand-brand baru di Indonesia, banyak diantara mereka yang muncul dan menjadi popular justru karena berbeda dengan pemain-pemain yang ada. Sebut saja permen Mentos, Post It, Biskuit Gosong,

Tidak mudah menterjemahkan ‘Menjadi Berbeda’ dalam realitas keseharian branding.Seringkali kita terbentur dengan rasionalitas semua pasar.Terutama kalau brand kita masih baru.

Penulis: Silih Agung Wasesa (@silih), pakar neurobranding

Sumber gambar: somethingville.com