Slum Tourism: Kemiskinan menjadi objek wisata
by , 12 January 2017
0
Jakarta Hidden Tour

Tidak ada orang yang menginginkan kemiskinan di hidupnya. Kemiskinan adalah hal yang harus dihindari dan diabaikan keberadaannya karena kemiskinan merupakan muara dari hal-hal negatif menuju masalah sosial. Ironisnya, fenomena kemiskinan yang menjadi masalah dunia sudah mengalami perubahan makna. Kemiskinan yang seharusnya menjadi momok menakutkan yang harus diperangi oleh berbagai negara di dunia justru menciptakan dilema tersendiri dengan hadirnya fenomena baru. Dilema kemiskinan muncul ketika kemiskinan dijadikan sebuah komoditas. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, komoditas adalah barang dagangan utama, atau benda niaga.

Produk dagangan sudah seharusnya memberikan nilai-nilai yang memberikan kepuasaan bagi konsumen. Lantas, bagaimana kepuasan itu bisa sampai kepada orang-orang yang menikmati kemiskinan? Bagaimana kemiskinan bisa menjadi komoditas yang dipasarkan ke dunia internasional? Banyak pertanyaan muncul ketika kemiskinan yang merupakan hal menyedihkan dijadikan sebuah barang dagangan untuk memetik keuntungan dari hal tersebut.  Tentu saja, hal ini menjadi sesuatu yang baru bagi orang-orang di belahan dunia. Kemunculan fenomena ini tidak terlepas dari proses globalisasi dan modernitas yang berkembang pesat saat ini.

Globalisasi memiliki dimensi teknologi informasi untuk menyatukan dunia. Perkembangannya menciptakan berbagai perangkat teknologi yang memudahkan masyarakat dari berbagai belahan dunia bertukar informasi. Hal inilah yang mendasari konsep network society muncul dan dipopulerkan oleh Jan van Dijk dalam buku The Network Society. The Network Society sendiri berkembang sebagai konsekuensi dari penggunaan komputer yang terkoneksi sambungan internet. Perkembangan dunia digital yang pesat membawa perubahan signifikan pola dan bentuk komunikasi masyarakat global. Network Society menyebarluaskan informasi mengenai hal-hal penting yang menjadi pembicaraan dunia lewat internet. Media inilah yang digunakan untuk membentuk kesadaran mengenai kemiskinan dan membentuk wisata kemiskinan.

Network society membawa dimensi baru dalam struktur komunikasi untuk mengirimkan pesan mengenai kemiskinan. Kemiskinan menjadi perhatian negara-negara kaya (core countries) sehingga memunculkan peluang untuk mengkomodifikasinya. Nilai-nilai negatif kemiskinan dijadikan sebuah produk komoditas yang dinamakan slum tourism. Slum tourism disebarluaskan lewat network society yang berbasis pada media internet. Medium internet memiliki andil besar dalam proses marketing secara masif produk kemiskinan ini. Komunikasi internasional juga berperan besar dalam penyampaian produk wisata ini.

Slum Tourism adalah konsep baru terkait dengan perpaduan fenomena kemiskinan dan pariwisata yang berkembang pada tahun 1991/1992 di Afrika Selatan dan Brazil seperti yang diungkapkan dalam buku Slum Tourism (2012) : Poverty, Power, and Ethics karya Frenzel, Koens, dan Steinbrink. Frenzel (2012, p.49) mengatakan bahwa aktivitas Slum Tourism menggambarkan pariwisata atau perjalanan terorganisasi ke daerah pelosok (kampung/desa). Indonesia juga tidak terlepas dari fenomena slum tourism melalui tur wisata Jakarta Hidden Tour.

Program yang diusung oleh Ronny Paluan ini memberi wisata yang berbeda bagi pengunjung terutama turis dari berbagai mancanegara. Tur ini memang memiliki konsep yang berbeda dengan yang lainnya. Peserta akan mengunjungi berbagai daerah di Jakarta, masuk ke berbagai pelosok kampung untuk saling berinteraksi. Tur ini bertujuan untuk mengutamakan adanya interaksi antara pengunjung/turis dengan penduduk setempat. Mengembangkan kesadaran terhadap unsur rasa kemanusiaan, budaya, dan memperhatikan lingkungan menjadi hal utama.

Sudah banyak turis mancanegara yang merasa puas dengan tur ini seperti turis dari Australia, Eropa, dan Amerika. Para turis bisa mendapat pengalaman nyata tentang kota Jakarta. Berbagai pelajaran pun dapat dipetik saat mengikuti tur ini. Karena sesuai dengan tujuan dari progam ini, bahwa kita tak hanya berinteraksi namun juga bisa saling membantu, bertukar ilmu, dan mempunyai teman/keluarga baru.

Penulis:

Agus Pramadi

London School of Public Relations

Referensi:

Van Dijk, J.A.G.M. (2006). The Network Society. Second Edition. London: SAGE

Publications Ltd.

Frenzel, F., Koens, K., & Steinbrink, M. (2012). Slum Tourism: Poverty, power,

and ethics. New York: Routledge.

https://travel.detik.com/read/2012/08/30/184828/2003707/1383/jakarta-hidden-tour-mengungkap-yang-tersembunyi

http://realjakarta.blogspot.co.id/

Foto Diakses pada tanggal 11 Januari 2016

https://www.tripadvisor.com/LocationPhotoDirectLink-g294229-d3179326-i66102177-Jakarta_Hidden_Tours-Jakarta_Java.html

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>