Tentang Shave For Hope, Budaya Patungan dan Viral
by , 13 September 2015
0
20150906_145446

Shave For Hope merupakan salah satu kampanye yang sukses, sekaligus menjadi pembuktian bahwa membangun awareness publik tidak melulu melalui iklan. Digarap secara serius oleh Yayasan Pita Kuning Anak Indonesia yang bekerjasama dengan Kitabisa.com, Shave For Hope bertujuan untuk meningkatkan awareness publik terhadap bahaya kanker dan menunjukan dukungan kepada anak-anak penderita kanker.

Kampanye ini sontak mendapatkan perhatian dari publik, tidak hanya masyarakat umum, tetapi juga kalangan artis dan public figure, di antaranya: Tora Sudiro, Omesh, Bertrand Antolin, Indra Bekti, Danang Suryonegoro, Rheza dan Asty Ananta. Yang dilakukan mereka adalah menggalang dana  dengan melelang kepala mereka untuk dibotakkan pada Kampanye Shave For Hope yang berlangsung di Lippo Mall Kemang pada 6 September 2015 lalu. Tidak ketinggalan dua petinggi BUMN, Direktur SDM & Umum Pertamina Dwi Wahyu Daryoto serta Direktur Keuangan Garuda Indonesia IGN Askhara Danadiputra yang juga ikut serta melelang rambut mereka untuk dibotakkan.

Melebihi kesuksesan kampanye tahun lalu, kampanye yang mengangkat pesan “Anak-Anak Itu Tidak Sendiri” ini sukses mengumpulkan dana lebih dari 2 miliar rupiah termasuk 350 juta yang dihasilkan saat pelelangan rambut kedua petinggi BUMN tersebut. Jika tahun lalu Eddie Brokoli menjadi fokus pemberitaan karena dengan senang hati melelang rambutnya untuk dibotakkan, kali ini penyanyi Rheza cukup disorot karena bentuk rambut aslinya yang tidak berbeda jauh dengan Eddie. Reaksi emosional justru datang dari Endah, Sang Istri, mengingat rambut tersebut sudah lama tidak digunting, tetapi tetap menekankan pada niat baik Rheza.

Budaya Patungan

Ada tren bisnis baru yang berkembang beberapa tahun terakhir yaitu sociopreneur di mana lebih berorientasi pada perubahan sosial. Untuk melakukan perbaikan, cara yang ditempuh ada macam-macam, salah satunya melalui penggalangan dana atau crowdfunding. Kitabisa.com adalah contoh sociopreneur di Indonesia yang menggunakan model serupa. Alfatih Timur, Co-founder Kitabisa.com, menjelaskan bahwa sebenarnya crowdfunding sudah tidak asing lagi di Indonesia. Sejak dahulu, orang Indonesia sudah terbiasa dengan budaya gotong royong, saling membantu satu sama lain termasuk dengan cara patungan. Bedanya saat ini patungannya dilakukan melalui media online.

Lelang vs Botak = Viral

Ketika budaya patungan menyatu dengan kesediaan public figure untuk melakukan sesuatu yang extra ordinary, dipastikan akan melahirkan sambutan publik yang sangat positif. Seperti yang terjadi pada Shave For Hope, aksi ini pun menyundang ratusan orang untuk merelakan kepala mereka dibotakkan dan turut aktif dalam penggalangan dana. Sama seperti yang dikicaukan sama Pandji Pragiwaksono di akun twitternya “Nah, yg TERbrilian dari #shaveforhope adalah justru setelahnya. Orang-orang akan nanya kenapa lo botak, saat itulah elo bs crita soal adik2 kanker ini.”

Orang akan bertanya-tanya, kenapa peserta membotakkan kepala mereka, dengan demikian pesan pun akan menemukan jalan sendiri untuk tersampaikan.

Shave For Hope

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>