Belajar PR dari Donald Trump
by , 6 August 2015
0
Citizens United And Americans For Prosperity Foundation Host Leading Conservatives For Freedom Summit

Pengusaha real estate Amerika Serikat yang juga pendiri Miss Universe dan Miss USA, Donald Trump, 16 Juni lalu secara resmi mengumumkan dirinya ikut dalam pemilihan bakal calon presiden dari Partai Republik. Pengumuman ini menjadi momen pertamanya meluncurkan slogan kampanye “Make America Great Again”. Ia tahu betul bagaimana melakukan self-promotion dan image-making di media. Di luar kebiasaannya yang suka berbicara terus terang di depan publik, suka atau tidak kita bisa banyak belajar Public Relations darinya, seperti beberapa poin yang ditulis oleh Dorothy Crenshaw CEO dan Creative Director of Crenshaw Communication berikut ini:

  1. Control the story

Trump adalah orang yang sangat detail dan rela turun tangan untuk memastikan bahwa kegiatan benar-benar siap. Dia tidak segan-segan untuk turun langsung guna memastikan bagaimana cerita tersebut akan disampaikan ke masyaraka

  1. Know your brand

Brand perusahaan Trump dikenal tidak hanya mewah dan sangat bagus, tetapi diimbangi dengan prestasi di Amerika, kapitalisme dan kewirausahaan. Bisa saja, di sisi lain alasan ia menerima tawaran menjadi bakal calon presiden dari Partai Republik adalah untuk memoles citra brand dari perusahaannya.

  1. Timing is everything

Beberapa tahun lalu, Trump sukses menangani isu bangkrut perusahaannya dengan baik. Ia mendapat momen yang tepat di bursa bakal calon presiden dari partai Republik, tinggal bagaimana ia bisa mengalahkan Jeb Bush, kompetitornya yang merupakan mantan Gubernur Florida sekaligus adik bungsu dari mantan Presiden George W. Bush.

  1. Define your enemy

Trump dikenal sebagai orang yang sering melakukan kritik terhadap orang lain, mulai dari Rosie O’Donnel, Jerry Seinfeld, Arianna Huffington hingga Barack Obama. Namun, serangannya melalui media justru menarik perhatian masyarakat. Trump selalu memilih musuhnya dengan cerdik. Ketika menyalakan api perseteruan, ia menceritakannya dengan bingkai yang menarik dan mengikutsertakan penonton dalam “perang” yang ia buat. Ia mencontoh ini dari “perang marketing” klasik antara Coke vs Pepsi.

  1. Take a stand

Hadapi setiap masalah yang datang. Kebanyakan perusahaan sangat hati-hati dan bahkan cenderung membosankan ketika menghadapi masalah. Namun Trump justru sebaliknya. Trump tidak pernah takut mengatakan apa yang menjadi isu minoritas bagi khalayak.

  1. Own it

Kekayaannya adalah salah satu alasan mengapa masyarakat Amerika mempertimbangkan ia untuk menjadi pemimpin di masa depan. Dia sangat paham bahwa publik menyukai ceritanya mengenai kesuksesan dan kemakmuran. Bahkan, ketika banyak orang mengabaikan kampanye Trump untuk menjadi Presiden Amerika selanjutnya, kita masih berbicara tentangnya.

Penulis:

Dewi Rifqina

PR Consultant di AsiaPR

Referensi: PRdaily.com, Forbes.com, dan CNNIndonesia.com

Sumber gambar: pix11.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>