Saat Usia Bicara
by , 12 March 2015
0
normal_supermarket

Usia, Kekuasaan dan Kekuatan memang seringkali berbanding terbalik. Saat usia matang, kekuasaan ada, tapi kekuatan memudar. Hilang ditelan jaman. Jangan berpikiran macam-macam dulu soal kekuatan yang memudar, ini murni soal kekuatan melakukan interaksi dengan konsumen kok. Atau interaksi dengan publik lah. Inilah yang terjadi dengan generasi X; mereka yang lahir tahun 61-81; generasi yang tengah duduk sebagai pengambil keputusan; tapi tidak berdaya dengan perilaku generasi Y, mereka yang lahir tahun 82-99. Generasi yang menjadi penduduk asli dunia digital, dan menjadikan orang tua mereka sebagai pendatang.

Sementara, untuk dengan sukarela melepaskan kekuasaan pada ‘sang anak’, generasi X tidak sepenuhnya rela. Ini mengingat, mereka dulu mendapatkannya sangat sulit dari generasi Baby Boomers. Generasi X memang bisa dibilang ‘korban’ generasi sebelumnya juga, dimana hidup mereka penuh diatur dan ditantang untuk bertahan.  Makanya, saat mereka mendadak jadi bukan siapa-siapa, ada perasaan tidak rela berkepanjangan untuk melepaskan mahkota kekuasaan.

Itu lah yang terjadi di beberapa brand di dunia, termasuk di Indonesia. Banyak performa brand yang melorot hanya gara-gara pertentangan generasi. Sebetulnya tidak bisa disebut pertentangan generasi, karena masing-masing punya persepsi. Hanya saja, generasi Y mendadak memilih keluar ketimbang harus ditekan dengan atasannya yang generasi X. Generasi X tidak habis pikir, karena dulu mereka berkembang dibawah tekanan gen Baby Boomers, toh kenyataannya bertahan.

“Generasi kok lembek, tidak berani melawan tantangan, bisanya cuma menuntut,’ itu yang banyak terlontar dari beberapa forum yang dominan dengan Generasi X. Mereka melihat tantangan harus dilalui melalu tekanan.

Sementara Gen Y? Ternyata mereka tidak melihat tekanan sebagai tangga merintis kehidupan yang lebih baik. Gen Y cenderung memilih hidup harmoni dan sinergi. Hal yang wajar sebetulnya, mengingat mereka hidup dalam era keberkahan rejeki dan fasilitas. Jadi, istilah perjuangan dalam kamus hidup mereka adalah harmoni dan sinergi. Begitu ada tekanan yang tidak sinergi, mereka memilih keluar.

Mereka lebih melihat hidup yang lebih praktis, ketimbang simbol-simbol motivasi. Jaman hidup mereka sangat berbeda. Jadi teringat ketika salah seorang motivator menemui forum seminarnya kosong mlompong ketika mengundang Gen Y untuk mempersiapkan masa depan.  Dalam pandangan Gen Y, motivasi bukan dalam konteks teriak-teriak seolah hidup akan segera berakhir besok pagi. Hidup bagi Gen Y  mengalir. Proses pun menjadi kekuatan mereka. Hidup juga penuh ketidak pastian, tapi mereka sendiri  yang bisa memastikan hidup ini mau kemana.

Bandingkan dengan Gen X, yang hidupnya sudah dikotak-kotakan oleh doktrin orang tua mereka. Bahwa hanya insinyur, dokter dan tentara saja yang bisa menjamin masa depan. Dan satu lagi, menjadi pegawai.

Sementara Gen Y? Pemetik gitar, penulis buku, pembuat komik pun bisa hidup makmur. Dan yang terpenting, bisa sekaligus menikmati hidup.

Perbedaan usia ini memang relatif dominan menimbulkan geger. Gen X ngomel-ngomel, Gen Y melenggang dengan tenang. Karena mereka tahu persis bahwa mereka adalah penduduk asli dunia digital ini. Mereka bisa dengan tenang mengelola komunikasi lewat social media, melompat kesana kemari sesuai keinginan diri.

Bila anda merasa ada kinerja perusahaan turun, coba cek perbedaaan usia antara pengambil keputusan dengan bawahan-bawahan mereka. Jangan-jangan kejadian diatas, menimpa brand anda juga.

Oleh: Silih Agung Wasesa

Sumber Gambar: http://production.sustainabilitylt.netdna-cdn.com/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.