Panggung Beracun
by , 19 March 2015
0
??????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????

Sesuatu yang tampak bagus, jangan lantas langsung menyukainya, karena bisa jadi ada jebakan dibalik penampakan yang bagus itu. Dan ada ‘racun’ dibalik jebakan yang bisa menurunkan reputasi brand kita. Termasuk personal branding yang kita bangun. Salah satunya adalah panggung dimana kita sering tampil, baik di media massa, media elektronik ataupun panggung-panggung seminar. Bahkan sekedar pertemuan sosial kecil seperti reuni ataupun makan siang, merupakan panggung yang bisa beracun.

Dari yang semula perasaan gugup, kemudian berhasil mengatasi, lantas menguasai panggung. Nah, disinilah biasanya jebakan mulai muncul, justru saat kita merasa nyaman dengan panggung. Baiklah, apa saja yang menyebabkan panggung itu beracun? Inilah dua contohnya:

  1. Panggung itu milik penonton, bukan milik kita. Saat merasa nyaman di panggung, membuat penonton terpesona dengan tatapan mata ataupun pertanyaan mendalam dan bahkan teriakan kagum, seringkali kita merasa bahwa panggung itu adalah milik kita. Jadi semacam komodo yang tidak mau diganggu, kita benar-benar membuat batas teritori kekuasaan panggung. Hanya kita yang boleh berkuasa dan mengendalikan penonton dari tempat itu. Padahal sebetulnya panggung tetap milik penonton. Kita ada di panggung atas permintaan penonton, dan kekuasaan kita dipanggung karena ada penonton.
    Hanya memang tidak mudah untuk memberi tahukan para tokoh panggung, seringkali mereka merasa menjadi dewa, tanpa peduli dengan input dan insight dari sekitar. Sementara mereka harus terus menjaga kesegaran panggung agar personal branding tetap terjaga. Termasuk memberi tahu diri sendiri ketika sedang asyik di panggung.
    Maka, sebetulnya sangat mudah bagi kita untuk melihat apakah seseorang akan bertahan lama atau tidak menjadi tokoh publik. Lihat saja kesesuaian antara depan panggung dan kehidupan sehari-hari. Semakin kontras kehidupan panggung dengan realitas keseharian, maka akan semakin cepat namanya menjadi surut.
    Sebaliknya, ketika realitas panggung tidak berbeda jauh dengan keseharian seseorang, maka semakin panjang kemungkinan personal branding atau ketokohan kita akan semakin panjang. Sekedar menyebut beberapa nama adalah Dorce, pelawak Tarzan, Slank, Iwan Fals, Emil Salim, BJ Habibie, ataupun Erna Witoelar.
  2. Panggung dan belakang panggung itu dua sisi yang saling meracuni. Seperti madu dan racun, panggung dan sisi belakangnya itu bisa menurunkan kerentanan kondisi psikologis seseorang. Saat kita dielu-elukan dengan riuh, andrenalin kita berproduksi maksimal, hormon-hormon serotonin memproduksi kesenangan akibat eluan-eluan penonton. Nah, begitu beberapa menit kemudian kita harus selesai, dan kebelakang panggung. Suasananya langsung berubah. Hiruk pikuk berubah senyap seketika. Ada semacam kebingungan otak dalam menerjemahkan perubahan suasana yang drastis ini. Maka, perlu psikolog untuk menjembatani perubahan ini. Setidaknya, kita harus sadar situasi yang terjadi; karena kalau tidak itu akan mempermudah kita untuk menjadi depresi.

Penulis: Silih Agung Wasesa (Pakar Komunikasi dan Branding)

Sumber gambar: Ibtimes.co.in

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.