Bangun Awareness Melalui Viral
by , 9 March 2015
0
How-to-Make-Your-Viral-Video-Go-Viral

Saat ini seorang praktisi komunikasi dituntut memiliki kreativitas lebih untuk membangun awareness publik terhadap suatu brand atau produk. Cara-cara konvensional hingga modern dalam membangun strategi untuk meningkatkan awareness, mungkin sedikit banyak masih dijalankan oleh beberapa praktisi komunikasi demi mendongkrak penjualan produk mereka.

Ada hal yang menarik ketika strategi konvensional dipadukan dengan strategi digital, maka brand tersebut akan mendapatkan “dua sisi mata uang” dalam mengoptimalkan awareness produk mereka kepada publik. Tentunya dalam menarik perhatian publik, pemanfaatan aktivasi konvensional dan digital perlu selaras dan menawarkan sesuatu yang baru. Salah satu cara yang dilakukan oleh beberapa brand ialah dengan menyajikan sesuatu yang berbeda dengan “gimmick” yang unik, kreatif dan inovatif yang kemudian dikembangkan dengan membuat sebuah video viral dan diunggah ke dalam situs jejaring video YouTube.

Apa itu Viral?

 Viral mungkin terdengar aneh bagi mereka yang belum pernah menemui istilah tersebut. Strategi Viral adalah suatu teknik komunikasi yang memanfaatkan jaringan sosial untuk mencapai suatu tujuan tertentu melalui proses komunikasi berantai dari satu ke yang lainnya. Viral bisa seperti virus yang dapat dikategorikan ke dalam terminologi dunia komunikasi bergantung dengan konten yang akan disampaikan, jika isi dari konten tersebut dirasakan manfaatnya maka akan disebarluaskan kepada publik lainnya begitu seterusnya.

Pesan yang disampaikan dalam viral sangat berpengaruh terhadap kesan yang akan diterima oleh publik. Jika pesan tersebut bermanfaat dan menarik tentunya akan memberikan kesan positif dan tanpa disadari mereka akan menyampaikan kembali pesan tersebut kepada orang lain. Oleh karena itu Viral cocok didefinisikan sebagai strategi untuk meningkatkan awareness publik terhadap sebuah brand melalui informasi berantai atau yang biasa kita kenal dengan teknik “word of mouth

Banyak ragam kreativitas viral yang telah dilakukan oleh brand-brand ternama, yang terbaru belakangan ini yang ramai terdengar di media sosial maupun media massa adalah viral build in branding Line di Sekuel “Ada Apa Dengan Cinta”. Build in branding ini sukses mencuri perhatian publik dengan menunggangi sebuah film yang laris pada masanya tersebut.

Ini merupakan dampak viral yang sangat luar biasa, hal positif yang dapat simpulkan adalah publik aware dengan keberadaan LINE dan mulai mencari tahu tentang LINE dan fitur Find Alumni. Hal ini positif juga karena LINE menawarkan ‘obat kerinduan’ penikmat film Indonesia dengan menghadirkan para pemain AADC melalui iklan digital mereka. Karena strategi itulah, mini film AADC di kanal resmi LINE paling banyak ditonton sebanyak 1 juta penonton di hari peluncuran.

Belajar dari kesuksesan tersebut, tentunya dapat ditarik kesimpulan bahwa strategi viral dapat menjadi salah satu ‘senjata’ bagi brand untuk meningkatkan awareness produk mereka. Tidak hanya itu, strategi viral dapat terus dimaksimalkan menggunakan Integrated Marketing Communications (IMC), yaitu dengan cara memanfaatkan semua kanal komunikasi untuk mempromosikan atau menyampaikan pesan dari produk tersebut. Bagaimana caranya? Pertama, bisa melalui event yang mengangkat tema tertentu yang berkorelasi dengan karakter dan jenis produk yang akan diperkenalkan.

Kedua adalah dengan memanfaatkan akun dan kanal media sosial (Facebook, Twitter, Instagram, Youtube, dll) yang dimiliki oleh brand tersebut. Selain itu, upaya lain yang dilakukan adalah dengan meramaikan percakapan di sosial media, lewat tagar (hashtag) resmi dari program, kampanye atau produk yang akan diangkat. Amplifikasi tersebut juga dapat ditunjang oleh influencer atau endorser dengan menyebarkan teaser berupa konten-konten informasi terkait produk ataupun kampanye yang sedang dilakukan.

Tidah berhenti sampai di situ, agar amplifikasi lebih meluas, Tim Pubic Relations juga dapat bergerak dengan mengamplifikasi kegiatan strategi viral tersebut ke media massa melalui pendekatan kegiatan media relations. Tentunya dengan mengkomunikasikan pesan kunci yang telah ditentukan sebelumnya. Lalu, setelah semua objektif tercapai, TVC adalah hal berikutnya yang dapat dilakukan. Fungsi TVC itu sendiri adalah untuk memperkenalkan secara langsung produk dengan mengemas iklan ditelevisi yang bersinergi dengan pesan dan strategi komunikasi yang telah dilakukan sebelumnya. Dengan demikian, selain para target audience, masyarakat umum lainnyapun dapat terpapar informasi tersebut. Tapi memang jika dibandingkan pemanfaatan video viral melalui media sosial, TVC lebih memakan banyak biaya.

Nah, kini giliran PRiders menentukan strategi dalam meningkatkan awareness produk/brand anda. Hanya mau melalui konsep viral, atau dengan cara konvensional? Atau bahkan kolaborasi keduanya?

Image source: branded3.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>