Jangan Sampai Krisis!
by , 12 January 2015
0
Crisis Management-Jangan Sampai Krisis

Salah satu momen yang sebisa mungkin dihindari oleh para praktisi Public Relations adalah krisis. Beberapa diantaranya berpikir bahwa krisis diperlukan sebagai sarana latihan untuk meningkatkan kompetensi tim PR-nya. Namun, ancaman yang datang di belakang krisis memang tidak main-main. Sehingga menghindar menjadi pilihan terbaik yang low budget. Ibarat pepatah, daripada terbakar, mending tidak usah main api sekalian.

Sebenarnya, tindakan preventif bisa saja dilakukan untuk mengantisipasi atau minimal mewaspadai potensi datangnya krisis. Bagaimana caranya? Yuks berkenalan dengan konsep “General Check Up” untuk reputasi organisasi atau korporasi, atau dalam bahasa PR lebih sering dikenal dengan istilah Audit PR.

Dengan melakukan pengecekan reputasi secara berkala, PRiders bisa memastikan bahwa profitability program PR sejalan dengan tujuan perusahaan. Lewat analisis yang dihasilkan, kalian dapat mengetahui seberapa jauh tim PR mendukung kinerja perusahaan, baik internal maupun eksternal. Selain itu, berguna juga untuk menyeleksi media dan narasumber mana yang memberikan pernyataan positif, netral, atau negatif. Dapat juga digunakan untuk melakukan perbandingan dengan apa dilakukan kompetitor terdekat sebagai pertimbangan rumusan strategi.

Untuk itu, hal pertama yang harus dilakukan adalah memahami aktivitas PR yang sudah dan sedang berjalan. Apa sih kelebihan, kekurangan, tantangan, serta ancaman yang menyertainya. Kemudian mengecek apakah alat ukur reputasi, pemilihan channel media, hingga gaya komunikasi ke target audience, masih sesuai digunakan. Baru kemudian diberikan penilaian dan evaluasi atas output, out take dan outcome-nya. Dalam beberapa kasus, penilaian ini muncul dalam wujud rekomendasi aksi yang merumuskan rencana tindak lanjut untuk mencegah terjadinya kesalahan yang sama.

Secara taktisnya, beberapa metodologi yang bisa digunakan antara lain stakeholder mapping, media framing analysis, hingga analisa gabungan kualitatif dan kuantitatif. Untuk menjelaskan variabel yang sifatnya berpengaruh atau berhubungan, gunakanlah pendekatan riset kuantitatif dengan instrumen kuesioner. Untuk menjelaskan fenomena secara mendalam, pendekatan riset kualitatif dengan model wawancara lebih cocok dipilih. Sedangkan model media framing analysis pas digunakan untuk deskripsi atau analisis teks.

Secara umum, tahapan dalam General Check Up ini meliputi tahap persiapan, turun lapangan, analisis dan interpretasi, dan laporan akhir. Pada tahap awal, tim PR akan ditantang untuk mengembangkan instrumen yang mudah dibaca, hingga merumuskan timetable penelitian. Selanjutnya, target riset mulai dikontak untuk diwawacara secara langsung. Khusus untuk metode framing, cukup dilakukan analisis atas teks yang ada, kecuali perlu dilakukan wawancara pendukung sebagai bahan konfirmasi hasil riset. Pada tahap selanjutnya, data yang sudah didapatkan kemudian dianalisis dan diberikan penilaian. Hasil akhirnya adalah rekomendasi aksi yang akan dijadikan rujukan oleh tim PR dan dilaporkan secara berkala. Nah, selamat mencoba! <RN>

image source: cpr.mtninet.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>